Menulis Yang Memesona I
Oleh Ali Reza
Saya sudah menulis puluhan cerpen, sebagian bisa kamu baca di blog ini. Tentu saja menurut saya sendiri atau menurut pembaca ada yang bagus dan ada pula yang kurang. Saya mengakui kekurangannya dan saya bersyukur jika tulisan saya menyenangkan pembaca. Di samping itu, dalam menyelesaikan tulisan tersebut ada yang membutuhkan waktu lama ada juga yang dalam hitungan jam meski secara kualitas waktu bukanlah sebuah perbandingan. Lalu ada juga kala saya menulis dalam bad mood atau dalam keadaan good mood. Begitu banyak pengalaman (jika bukan disebut hambatan) dalam menulis. Tapi tahapan penting yang harus dilalui adalah menyelesaikannya, entah itu nantinya akan menjadi satu halaman atau seratus halaman. Seperti tugas saya dalam menulis artikel ini adalah menyelesaikannya. Dengan menyelesaikannya, kita, atau orang lain bisa menilai kualitas tulisan kita. Tentu saja untuk menyelesaikannya kita akan melalui tahap-tahap seperti menentukan sudut pandang tokoh, setting, ide cerita, dsb. Sekarang jika kamu sudah menentukan akan membuat sebuah tulisan, maka bersumpahlah untuk menyelesaikannya.
Menulis fiksi merupakan bagian dari seni, sedangkan seni sediri itu berhubungan dengan rasa. Bagaimana perasaanmu jika tulisanmu bisa membuat orang tertawa, menangis atau ketakutan? Bukankah itu akan membuatmu sukses? Jika demikian keinginanmu maka jadilah seorang penulis yang juga seorang pembaca. Rasakanlah tulisanmu sendiri. Janganlah mengeluh karena mentok di ide atau tidak tahu apa yang akan ditulis selanjutnya. Senanglah dengan kegiatanmu menulis, jika perlu pasang musik favoritmu.
Ada dua hal utama yang biasa diperhatikan pembaca dalam membaca sebuah tulisan fiksi. Pertama, tema cerita dan kedua adalah gaya menulis si penulis.
Tema selalu berkaitan dengan ide. Ide bisa berkaitan dengan segala hal, mulai dari pengalaman, imajinasi atau keinginan kita untuk menciptakan sebuah cerita. Hal yang termudah untuk memunculkan ide biasanya datang dari pengalaman. Tulisan saya yang berjudul “Hujan” berasal dari pengalaman saya sendiri. Ceritanya hampir mirip, yaitu ketika saya bertemu adik kelas saya saat saya sedang menunggu bis di samping pintu tol. Saya pernah mengagumi dia. Saya pernah memimpikannya. Saya pernah berandai menjadi pasangannya. Tapi saya hanya seorang yang pemalu dan tidak berani mengungkapkan perasaan. Saya selalu terbelenggu dengan ketakutan saya sendiri. Kami menuju kota yang sama dengan kendaraan yang sama. Ia tidak pernah tahu perasaan saya padanya. Malam itu di pertemuan kami hujan turun deras. Ia yang mengenali saya lebih dulu, berlari ke arah saya kehujanan. Kami berteduh di payung yang sama sambil menunggu bis kami datang. Di dalam bis kami pun duduk bersebelahan. Saya merasa malam itu mimpi-mimpi saya di masa lampau seperti menjadi kenyataan. Tidak sampai satu jam kebersamaan kami karena kami harus berpisah di luar pintu tol.
Saya tersenyum setelah kejadian itu. Sungguh indah jika membayangkannya kembali, seperti sebuah cerita. Saya menyiapkan diri saya untuk menuliskannya. Saya mengingat-ingat benar kejadiannya supaya saya tidak kehilangan arah dalam menulis dan ada jalan keluar kalau-kalau mentok. Saya menulis sesuai dengan urutan kejadian. Tapi saya tidak memakai nama saya atau si perempuan sebagai nama tokohnya meski itu memungkinkan. Saya memilih nama yang lebih mudah diingat sehingga saya mendapatkan ide untuk masing-masing memakai nama yang pendek: Mo dan Nur. Dan untuk sudut pandang, saya memakai sudut pandang Mo. Mo saya gambarkan sebagai seorang pekerja kantoran yang bosan dengan rutinitas pekerjaannya, sama dengan saya waktu itu. Dan untuk setting, saya gambarkan seperti setting sebenarnya. Namun ada beberapa hal dramatis yang saya tambahkan, seperti Mo yang kecipratan lumpur dan Nur meminjamkan sapu tangannya untuknya.
Demikianlah saya membuat cerita berdasarkan pengalaman saya. Jika pembaca tidak bisa membedakan crita fiksi kita dengan kenyataan, maka kita berhasil.
Ide kedua berasal dari imajinasi. Stephen King pernah mengajarkan memulainya dengan kalimat “Bagaimana jika?” Mengapa kita tidak mencobanya? Bagaimana jika seorang bankir yang tidak bersalah menghadapi kehidupan di penjara? Maka jadilah cerita pendek King berjudul “Rita Hayworth and Shawsank Redemption”. Bagaimana jika seorang penulis terjebak di rumah seorang penggemarnya yang sakit jiwa? Maka jadilah “Misery”, dsb. “Huang Ho dan Lukisan Berdarah” berasal dari imajinasi saya dan keinginan saya untuk menciptakan sebuah tulisan tentang pembunuhan (thriller). Bagaimana jika seorang pelukis yang mencampur darah dalam lukisannya dan menciptakan sebuah lukisan pembunuhan menemukan jalan untuk menjadi orang baik. Sehubungan dengan itu maka diskusi kita selanjutnya adalah tentang pengalaman saya menulis “Huang Ho dan Lukisan Berdarah”.
Pembaca yang baik, terkadang kita tidak menyangka kita akan menulis lebih baik dari yang kita bayangkan. Cobalah selesaikan sebuah cerita pendek, satu halaman saja, bercerita tentang seseorang yang kamu cintai, seseorang yang melahirkan dan membesarkan kamu. Tulislah tentang kebaikan-kebaikannya, kesedihannya karena memikirkan kamu yang nakal dan kalimat betapa kamu sayang padanya. Tulislah tanpa jeda yang panjang, tanpa editing. Kemudian simpanlah tulisan itu rapat-rapat dan jangan membukanya lagi hingga dua minggu atau lebih lama dari itu. Ajaib, kamu akan menemukan sebuah tulisan indah kamu sehingga kamu menyangka bahwa itu adalah tulisan orang lain.
“Huang Ho dan Lukisan Berdarah” saya tulis dengan cepat untuk ukuran penulis pemula, yaitu kurang dari seminggu. Saya sudah memegang idenya, jantung saya berdebar cepat karena ingin segera menyelesaikannya. Saya membayangkan saya sedang membuat sebuah film. Hal yang saya lakukan pertama adalah menentukan nama tokohnya. Sebelumnya dalam benak saya sudah terpikirkan untuk membuat setting seperti di Cina. Saya mencari-cari sebuah nama di internet dan mendapatkan nama sebuah sungai di Cina. Huang Ho atau Huang He, sebuah nama yang mudah diingat karena dengan pengulangan dua H.
Seperti judulnya yang menggunakan nama tokoh, maka saya harus lebih menguatkan tokohnya. Saya menggambarkannya bukan sekedar senang lukisannya dicampur dengan darah tapi juga melukis kematian dengan pembunuhan dimana darah menjadi dominan dalam lukisannya. Seperti inilah saya menulisnya:
Huang Ho adalah seorang pelukis di sebuah desa di Cina, menjadi idola bagi sebagian orang dan sekaligus dibenci bagi sebagian lainnya. Huang Ho, entah bagaimana ia dilahirkan, tiba-tiba saja sudah menjadi bagian dari legenda kelam sungai kuning padahal ia tidak pernah tinggal di daerah itu. Huang Ho bersenang-senang dengan lukisan eksekusi kepala terpenggal dan tembakan di kepala. Ia tidak melukis hukuman gantung, suntikan mati atau kursi listrik karena tidak ada darah. Tidak ada darah berarti tidak ada kehidupan.
Paragraf-paragraf berikutnya saya masih menceritakan Huang Ho.
Ada dua cara dalam menulis sebuah cerita. Cara pertama adalah dengan membiarkannya mengalir sehingga sang tokoh menemukan jalan sendiri menyelesaikan urusannya (atau tidak menyelesaikan urusannya) seperti yang Stephen King lakukan. Kedua, adalah dengan merancangnya sehingga terbentuk plot. Saya tidak menilai yang pertama atau yang kedua lebih baik karena penilaian akhir ada di penerbit dan pembaca. Saya sendiri terkadang menggunakan dua-duanya. Saya Huang Ho dan Lukisan berdarah mengalir begitu saja. Saya merasa dengan demikian akan lebih mudah membentuk iramanya. Irama sendiri terbentuk dengan hubungan yang indah antara kalimat satu dengan yang lainnya, paragraf satu dengan yang lainnya. Karena itulah diperlukan pembiasaan diri kita dalam menulis dan membaca. Perbanyak membaca, maka kita secara otomatis kita tidak akan terlalu sulit menemukan kata untuk menggambarkan sesuatu. Perbanyak latihan menulis, maka kita bisa memainkan kata atau kalimat tanpa harus banyak berpikir.
Huang Ho dan Lukisan berdarah berasal dari ide yang sederhana dengan pembukaan sederhana pula. Berawal dari menggambarkan sosok pelukis kematian yang menemukan seseorang yang sekiranya membawanya menjadi orang baik. Orang itu bernama Hui San. Hui San digambarkan sebagai seorang suci dan dihormati. Huang Ho seperti beruntung bertemu dengannya sampai-sampai ia ingin menjadi muridnya. Bersusah payah ia mencoba menjadi seorang pelukis yang baik bersama Hui San menemaninya dengan kesabaran. Namun Huang Ho belum bisa melepaskan masa lalunya untuk mengejar ambisinya menciptakan lukisan terbaiknya, yaitu sebuah lukisan kematian Hui San. Dan ia pun membunuh Hui San pada akhirnya.
say senang mas berbagi ilmu terus terang saya pengemar cerpen yang menarik minat saya baca.
klo bisa mas menulis cerpen yang asyik
slm knl mas….
jokolelonokosti
Oktober 30, 2009 at 3:56 am