Ali Reza
Kamu memiliki sebuah ide cerita cemerlang, lalu menulisnya dengan lancar dan tidak ada masalah sampai di pertengahan cerita hingga suatu kali kamu tiba-tiba berhenti menulis. Tokoh kamu terjebak dalam sebuah ketidak jelasan lanjutan kisahnya. Selama satu jam kamu memikirkan sang tokoh. Matamu memerah, kamu melewati waktu tidur kamu dan bahkan panggilan sms dari pacarmu pun tidak dijawab. Apa yang terjadi dengan tokohmu itu? Dua jam kemudian kamu sendiri yang terjebak dalam keputusasaan sambil menatap layar monitor. Kamu memutuskan berhenti menulis, berharap kelanjutan kisahnya akan datang seperti bagaimana ide itu datang.
Hal ini bisa terjadi pada setiap orang, baik itu pemula atau profesional. Ada yang menyimpan draft tulisan tersebut selama beberapa waktu, kemudian membukannya dan mendapat ide segar baru untuk melanjutkannya, namun ada juga yang sama sekali tidak mendapatkan inspirasi sehingga membuatnya berhenti menulis total.
Inspirasi bisa datang kapan saja, meskipun kamu tidak melakukan apa-apa karena itu datang dari bawah alam sadarmu. Tapi apa yang akan kamu lakukan jika inspirasi tidak kunjung datang. Tentu saja, tidak ada jalan lain kecuali kamu-lah yang menghampiri inspirasi itu. Dan sehubungan dengan tokoh kamu yang terjebak di jalan buntu, berikut saya berikan dua tips bagaimana tokohmu itu menemukan jalan lain.
Tip pertama adalah buat kamu yang biasa menggunakan sudut pandang orang ketiga u untuk tokoh utama, maka rubahlah untuk sementara menjadi sudut pandang orang pertama atau “Aku”. Memang sudut pandang orang pertama sangat terbatas karena “Aku” tidak bisa mendengarkan apa yang dipikirkan orang lain. Namun dengan menjadi “Aku” diharapkan penulis dapat merasakan pengalaman dari sang tokoh sehingga “Aku” dan sang tokoh menjadi satu kesatuan.
Jika Tommy sebagai tokoh utama tidak ada yang tahu apa yang dilakukan selanjutnya setelah menemukan kekasihnya, maka dengan menjadikan Tommy sebagai “Aku” penulis akan lebih mengetahui tindakan selanjutnya. Mungkin kamu pernah merasakan pengalaman yang sama di masa lalu seperti yang dialami Tommy.
Tip yang kedua adalah dengan mengalihkan cerita.
Ini biasa dilakukan untuk cerita yang agak panjang namun jangan terlalu bertele-tele. Sebagai contoh, Tommy pulang kerumahnya setelah satu tahun sekolah di luar negeri. Rumahnya tidak ada yang berubah sejak terakhir kali ditinggalkannya. Ibunya sedang memasak di dapur, menggoreng ikan asin kesukaannya. Tommy sangat merindukannya. Ia melihat ibunya sangat kelelahan, tapi … tiba-tiba penulis berhenti menulis. Penulis sepertinya tidak tahu apa yang akan diucapkan sang tokoh pada ibunya, apakah salam atau memanggil namanya. Tapi keduanya tidak seperti yang diinginkan oleh penulis. Jika memang demikian kamu alami, buatlah sebuah adegan lain, seperti di bawah:
Tommy memutuskan untuk duduk di ruang tengah, menunggu ibunya selesai memasak. Ia mengeluarkan isi tasny dan menaruhnya di atas meja. Baju bergambar menara Eifel akan diberikannya kepada keponakannya, boneka beruang coklat untuk adiknya dan sepasang sandal untuk ibunya.
Nah, mudah-mudahan bisa lebih leluasa untuk melanjutkan ceritanya dibandingkan sebelumnya.
Selamat menulis







