Ali Reza
Sahabat saya bercerita tentang tiga ekor kambing kurban untuk sekitar dua ratus orang yang tinggal di kaki gunung Wilis (saya tidak dapat membayangkan seberapa banyak daging yang didapat satu keluarga). Di salah satu keluarga, daging kambing kurban itu langsung dimasukkan kedalam belanga tanpa dicuci lebih dulu karena saking senangnya. Sang ibu memasak dengan anak-anak yang berkumpul di sekitar belanga, menunggu daging masak sambil mencium harumnya bau daging. Mereka makan daging yang sedikit itu dengan tiwul, lalu menyimpan tulang-tulang bekas makan mereka setelah makan dan memberikannya kepada ibu mereka. Kemudian sang ibu akan melepas sisa daging yang menempel pada tulang-tulang itu dan dikumpulkan untuk makan nanti malam.
Demikianlah sepotong kisah miris kehidupan sebagian kecil rakyat Indonesia yang luput dari perhatian kita. Tidakkah hati kita merasa teriris mendengarnya?
Tadi malam, presiden sby membuka SEA Games yang konon menghabiskan biaya 150 miliar rupiah dengan mengenakan tutup kepala adat ala palembang bak seorang raja. Tapi ia memang menjadi seorang raja malam itu, duduk menyaksikan parade kemewahan tarian yang menggambarkan kehebatan kerajaan Sriwijaya. Di akhir acara, sby pun tersenyum lagu ciptaannya dinyanyikan malam itu.
“Rakyat pasti senang mendengar lagu saya, bu” kata sby kepada istrinya
Saudaraku, saya terlalu sedih untuk menulis ini, tapi saya hanya ingin menyampaikan bahawa kita sedang melihat kemungkaran. Presiden seharusnya mengayomi rakyat, memberikan kesejukan dan kenyamanan hidup. Bukan sikap cuek, atau acuh tidak acuh terhadap nasib rakyatnya. Tidakkah sby malu duduk dalam kemewahan sementara rakyatnya memulung daging sisa makannya sendiri untuk makan malam? O, hati mana yang tidak menangis sekaligus marah melihat kelakuannya.
Di hari sebelumnya, sang menteri, olahraga membantah bahwa pembukaan SEA Games bukanlah acara mewah melainkan kemegahan. Masya Allah, bagaimana bisa mengatakan 150 miliar untuk acara itu bukan sebuah bermewah-mewahan dan sesuatu yang mubazir? Apakah ia tidak tahu bahwa mubazir adalah saudaranya setan?
Wahai umat islam, bangkitlah! Janganlah memilih selemah-lemahnya iman karena kita bukanlah orang yang lemah. Ingatlah sabda Rasulullah tentang barangsiapa yang melihat kemungkaran tapi tidak dicegahnya maka ia adalah seorang banci!
Saudaraku, apakah kita akan selalu antipati dan tidak peduli saudara-saudara kita di penjuru nusantara yang hidup dalam kesusahan? Apakah kita akan selalu tenggelam dalam rutinitas kita bekerja atau mengurus keluarga dan membiarkan pemimimpin yang zalim?
Saudaraku, janganlah jadi banci! Ya, kita memang tidak punya kuasa untuk mencegah kemungkaran itu. Tapi kita punya kekuatan media, jaringan dan pikiran kita untuk membuat opini massal. Mari kita satukan suara untuk mengecam tindakan sby dan menggiringnya ke arah yang lebih baik.







