Oktober 15, 2011
Ali Reza
Adi naik ke tempat tidurnya jam sebelas malam setelah menuntaskan pekerjaan rumahnya, berdo’a sebentar, mematikan lampu dan berusaha tidur secepatnya. Angin AC bergerak tipis di rambutnya, lampu indikatornya berwarna hijau menjadi satu-satunya cahaya dalam gelap. Malam yang sepi, di luar terdengar suara penjual nasi goreng dan penjual sekoteng yang lewat bergantian sebelum sepi kembali. Dia membalikkan badannya, melipat bantalnya atau menumpuknya dengan bantal lain, tapi tidak ada posisi yang bagus bisa mempercepat tidurnya. Dia menguap dua kali, melihat jam di selulernya. Sudah lewat jam dua belas dan masih terjaga. Dia harus bangun sebelum subuh, sarapan jam lima tiga puluh dan berangkat ke sekolah tepat jam enam bersama ayahnya. Rutinitas yang membosankan, dengan kata “bosan” ditulis di buku catatannya saat guru akuntansi-nya menerangkan pelajaran. Mengapa tidak sekolah bukan merupakan sebuah pilihan, pikirnya. Mungkin membaca akan membuatnya cepat tertidur.
read more »
Ditulis dalam Cerita Keluarga, Cerita Politik dan Sosial |
Tinggalkan sebuah Komentar »
Agustus 19, 2011
Saya sudah lama menyelesaikan cerita pendek ini. Ada beberapa perubahan kecil setiap kali membaca draftnya. Saya juga pernah posting di blog ini, namun saya hapus karena terlalu panjang untuk sebuah tulisan di blog, dan karena itu saya membuatnya dalam bentuk ebook.
Haida (Surat Terakhir) sendiri mengisahkan seorang pelajar yang jatuh cinta pada gadis lokal dimana pelajar itu tidak tahu jika gadis tersebut sudah meninggal. Hanya adik dari gadis itu yang “menghidupkan” sang kakak melalui surat-surat yang dikirimkannya.
Untuk mengikuti kisahnya, silahkan klik disini
Ditulis dalam Buku, Cerita Romantis |
Tinggalkan sebuah Komentar »
Maret 30, 2010
Oleh Ali Reza
Di sini, sebagaimana mereka bertemu; di sebuah toko buku di hari minggu di bulan Juni.
Rudi sedang melihat-lihat novel-novel ketika mendengar beberapa gadis muda bicara tentang novel teenlit terbaru. Dia mengakui bahwa teenlit memang populer dengan bahasa yang mudah ditangkap. Tapi, pikirnya, membaca buku-buku seperti itu hanya membuang-buang waktu. Terlebih buku lokal. Gaya penulisannya payah, nama-nama tokohnya tidak masuk akal, alurnya melompat-lompat dengan dialog yang buruk. Untungnya dia tumbuh sebagai laki-laki. Untungnya dia bisa menentukan sendiri pilihan bukunya sehingga tidak mudah terbawa oleh tren sesaat atau karena bujukan teman. Lagipula sudah banyak terbit novel bagus terjemahan meski ada beberapa terjemahan yang kurang pas.
read more »
Ditulis dalam Cerita Romantis |
9 Komentar »
Januari 25, 2010
Oleh Ali Reza
Mo meninggalkan kantor jam tujuh lima belas malam setelah menyelesaikan pekerjaan rekannya yang tidak masuk karena sakit. Udara dingin, angin bertiup agak kencang, membuatnya menyesal tidak membawa baju hangat. Ia membawa payung yang cukup untuk satu orang, duduk di halte bis di sebelah wanita hamil. Ia tidak terburu-buru, lagipula jika ada maksud terburu-buru maka segeralah maksud itu diurungkan karena macet di jalanan belumlah hilang. Antara ia dan wanita itu sama-sama tahu kalau mereka bekerja di gedung yang sama. Wanita itu berharap Mo dapat menemaninya hingga dia mendapatkan taksi. Tapi mereka tidak berkenalan. Mo meninggalkannya sendirian setelah mendapatkan bis yang tidak terlalu penuh penumpang.
read more »
Ditulis dalam Cerita Romantis |
4 Komentar »