“Aku orang sombong … Aku orang sombong … Aku orang sombong” ucap seorang kaya sepanjang perjalanannya ke rumah. Ia baru saja mendengar ceramah di masjid tentang kesombongan dan posisi orang sombong di akhirat nanti.
“Aku orang sombong … aku orang sombong … aku tidak akan menjadi sombong lagi … aku bertobat, ya Allah …” ia mengatakannya sambil menunduk menyesali masa lalunya menjadi orang sombong. Saat itu ia akan berpapasan dengan seorang kakek di perempatan jalan.
“Sedekahnya pak,” ucap seorang kakek berjanggut putih panjang berpakaian lusuh tanpa alas kaki.
Si orang kaya berhenti melangkah.
“Hei, pengemis!” bentak si orang kaya. “Tidakkah kaulihat aku sedang bersedih? Tidakkah kau mendengar aku sedang menyesali dosa-dosaku?”
Si kakek pengemis hanya terpaku.
“Dasar pengemis. Pergilah dari sini!” kata si orang kaya. Dan si kakek pengemis pun melangkah pergi meninggalkan si orang kaya yang aneh.
Tapi tiba-tiba si orang kaya teringat pada si penceramah yang memiliki jenggot putih mirip dengan si pengemis tadi. Ia selalu teringat si penceramah jika melihat jenggot putih. Dan jika teringat pada si penceramah, maka ia ingat akan ceramahnya.
Ia terdiam, dan kemudian berlari sambil berteriak, “Aku orang sombong … aku orang sombong … aku orang sombong … terkutuklah aku … terkutuklah aku.”