Lima belas menit pertama tanpa dialog, “There Will Be Blood” memang film hebat. Diangkat dari buku karya Upton Sinclair, film ini menceritakan tentang kehidupan seorang penambang minyak, Daniel Planview. Berawal dari usahanya mencari emas yang membuatnya terluka hingga ia menemukan sebuah ladang minyak. Ketamakan menjadi tema film ini. Daniel bersama anaknya – yang bukan anaknya – berkelana, meyakinkan penduduk untuk membeli tanah mereka untuk ladang pengeboran minyak. Daniel memang meyakinkan, ia tahu seluk beluk pertambangan minyak. Hingga suatu hari datang seseorang, Paul Sunday, menunjukkan letak sumber minyak yang berada di tanah keluarganya. Ia meminta imbalan untuk informasi itu. Di tempat itulah kesuksesan Daniel mulai berlanjut. Semua warga menjual tanahnya pada Daniel, kecuali Brandy.

Eli Sunday, adik dari Paul Sunday adalah seorang pendeta. Ia yang memperingatkan Daniel agar diadakan pemberkatan sebelum diadakan pengeboran. Tapi Daniel mengingkarinya. Kejadian-kejadian berikutnya seperti jatuhnya korban, ledakan sumur minyak yang juga menyebabkan anaknya tuli menegaskan sebagai pembenaran Eli.
Daniel menjadi pengusaha minyak yang sukses, anaknya menikah dengan Marry Sunday, adik dari Eli Sunday. Dan Eli yang kembali dari tugasnya berdakwah di berbagai daerah datang pada Daniel untuk meminta bantuan. Ia menunjukkan bahwa tanah Brandy bisa dipakai untuk pengeboran barunya. Ia bahkan mengingkari dirinya sebagai Nabi dan bahwa Tuhan itu hanya khayalan. Tapi Daniel sudah melakukan eksplorasi di tanah Brandy lebih dulu. Pipanya melewati daerah tersebut. Eli mati di tangan Daniel.
Daniel Day Lewis memainkan peran Daniel dengan baik. Jika melihatnya dengan kumis tebal, akan mengingatkan kita pada perannya di film Gangs of New York. Ia mendapatkan Oscar dalam film ini dalam kategori “Best Performance by an Actor in a Leading Role”.






